Akibat tidur yang terlalu pagi di malam ke-dua puluh empat, bangun kami jadi siang. Karena tanggung siang, ritual ngopi melek mata kami nikmati dengan santai. Lalu setengah satu siang, barulah mesin motor dinyalakan.
Anto memboncengku. Kami memakai motor seorang teman di Malang, Rizki namanya. Dan Rizki meminjam motor temannya. Sepeda kami tinggal di asrama.
Kami menuju Tumpang. Di sana, kami mampir ke Puskesmas. Minta surat keterangan sehat lalu menarik gas lagi ke Ranu Pane. Jarak Tumpang ke Ranu Pane yang 40 kilometer adalah perjalanan yang double dahsyat. Dahsyat pemandangannya: sungai, lembah, perbukitan dan hutan. Dahsyat juga jalan rusaknya. Debu-debunya terangkat bila ada kendaraan yang lewat. Panjang umur, kan. Sebuah truk yang menyusul dari belakang amat hebat menghujan-debukan kami. Siyalll.
Kadang-kadang motor yang dikuasai Anto tak kuasa di trek curam yang aspalnya bolong-bolong. Jadinya beberapa kali aku angkat bokong dari jok, turun dan jalan beberapa langkah sampai agak ke atas, ke jalan yang aspalnya lebih ramah. Lalu cekikikan menonton Anto dan motor berjuang.
Saat kami tiba di Ranu Pane, suasananya sedang ramai. Masyarakat berbondong-bondong nyekar ke pemakaman yang letaknya hanya tiga petak rumah dari pos pendakian. Itulah ritual hari Kamis pada masyarakat sini. Di depan makam, ada warung kecil. Di sana kami duduk dan memesan nasi.
Rizki hanya mengantar sampai sini dan ia balik lagi ke Malang. Kami dan tiga anak SMU Sampurna Malang yang ketemu di warung ini, barengan start mendaki menjelang Maghrib. Dan setelah empat jam jalan, pukul 10 malam, kami tiba di danau Ranukumbolo.
---
Ranukumbolo. Semalaman kami sulit tidur karena menggigil. Tenda dan kantong tidur gagal menjinakkan dingin. Semeru sedang kemarau panjang. Di siang hari memang panas. Tapi malam apalagi menjelang pagi, suhunya sangat rendah. Bahkan beberapa hari sebelum kami datang pernah tembus -2 derajat. Buat kami yang orang dataran rendah, angka segitu jelas bukan angka yang ideal. Nah, Anto saja yang lemaknya banyak tetap merasa beku, apalagi aku yang ceking. Alhasil, baru pada pukul 6 pagi kami bisa nyenyak.
Jika setiap gowes kami sering protes pada matahari, tapi pagi itu kami syukuri. Dan siangnya terik datang lagi. Aku bangun kegerahan lalu duduk dan membuka pintu tenda. Angin masuk semriwing, adem rasanya. Mata juga adem disambut Ranukumbolo yang riak kecilnya bergelimangan emas pantulan cahaya matahari.
Di tepian, seseorang menghadap danau sambil menopang alat pancinganya. Di tepian, cemara-cemara tumbuh tinggi, dan batangnya yang besar terlihat gagah seperti pilar-pilar yang melingkari menjaganya. Bukit-bukit yang nyaris menyatu 360 derajat, dianugerahkanNya menjulang pada tempat terluar.
Di sebelah barat ada satu tanjakan yang seakan membelah bukit menjadi dua. Tanjakan Cinta namanya. Nama yang tenar di kalangan pendaki. Konon, orang yang mampu berjalan tanpa henti dari tepi danau hingga ujung bukitnya, padanya akan dihadiahkan cinta sejati.
Kami pergi ke sana dan tengah hari bertengger di atasnya. Ranukumbolo luar biasa anggun dipandang dari atas sini. Di arah sebaliknya, sabana Oro-oro Ombo membentang luas. Rumput-rumputnya sedang kering kuning kecokelatan saat ini. Kalau jalan di tengahnya, seseorang boleh berkhayal sedang berada di Afrika.
Akhir sabana kami melepas carrier di samping pohon yang sudah roboh. Kami duduk-duduk di batang tumbangnya yang memanjang dan memberi jeda untuk nafas yang terengah-engah.
Selanjutnya Cemoro Kandang. Hutan yang pohon-pohonnya berdiri renggang. Anto jalan di depan, pelan-pelan. Saat ia jalan agak cepat ingin sekali kutumbuk mukanya. Karena debu naik membumbung dan membedaki wajahku yang jalan di belakangnya. Namun ia cukup tahu diri, paling hanya sesekali saja lupa diri.
Dua jam lebih sejak pergi dari Ranukumbolo seluruh tubuh akhirnya berlumuran debu. Percuma melangkah pelan-pelan. Ujung kaki ke kepala tidak ada yang luput. Kami mirip-mirip orang yang dihadihi sebungkus terigu saat ulang tahun.
Kalimati sudah didatangi, Mahameru seperti menunggu. Kami menanggalkan tas lalu meletakkannya di atas rumput. Duduk di bawah bayangan pohon sambil menonton Mahameru yang gagah. Tentunya sambil mengibas-ngibaskan celana dari debu.
Lima belasan menit berlalu, kami berjalan lagi. Dekat saja ke pos Kalimati yang memang sudah kelihatan. Lalu melintas di belakang pos, melangkah di antara puluhan tenda. Mungkin ada ratusan orang di tempat ini, ramai. Ada yang sibuk, ada yang nongkrong-nongkrong di depan tenda. Ada juga yang memasak atau bercanda dengan temannya. Yang kuat mungkin, yang sedang berjalan memanggul-manggul kayu.
“mang Cliff”, Terkejut campur senang kami melihat Kobe yang tahu-tahu bisa ada di sini “Woi”, aku semangat. Teman satu forum di OANC, asal Tasik, bersama empat teman sekampusnya yang sekarang ada di depan tenda itu, ternyata datang dari Purwokerto mengisi waktu kosong kuliahnya. Baru juga sebentar kami kangen-kangenan, pandanganku tercuri seseorang yang kaos birunya familiar sekali karena di lemari bajuku juga ada yang serupa. Ternyata teman sekampung kami. Hadi, dengan kaos OANCnya sedang berdri tidak jauh. Dan di sekitarnya ada juga Gopak, OANC Jakarta. Waaah, seneng banget kami bisa kumpul rame-rame di ketinggian Kalimati ini. Hadi, Gopak dan enam orang temannya yang berangkat sama-sana dari Jakarta, tergabung dalam satu tim. Di dekatnya tiga tenda mereka sudah berdiri.
Kemudian, setelah aku dan Anto kembali dari mengambil air di Sumbermani, sekitar tiga puluh menit pergi-pulang, terlihat tenda kami sudah mengembang berapatan dengan tenda mereka. Oh, baiknya teman-teman.
Saat api unggun sudah menyala di tengah-tengah empat tenda, Kobe main ke tenda kami. Kopi, teh dan makanan kecil menemani obrolan. Lucu dan caprux orang ini. Waktu kami bertemu di rumah Alfian, ia memang sudah kelihatan supel. Tapi malam ini cenderung ‘kurang ajar’. Sudah mulai berani dia melempar lelucon ejekan. Sampai lama-lama kami beradu ejek. Di tengah dingin, di naungan gelap malam, aku, dia, dan Anto, bergiliran mengambil gelak saat seorang dari kami mati kata karena gagal mengelak. Atau sesekali, kami malah tertawa bersama-sama di antara pijaran temaram unggun.
Sementara, terlihat Hadi merangkak masuk ke tendanya. Gopak dan teman-temannya duduk anteng di dekat api. Mereka masak makan malam. Di luar kami, yaitu pendaki-pendaki yang lain, aktifitasnya tidak jauh beda. Semua orang seru di depan atau di dalam tendanya masing-masing. Lalu semua berangsur sepi setelah makan malam. Semua orang istirahat. Sepertinya mereka tahu gunanya mengumpulkan dan menyetok tenaga malam ini. Yang tersisa di luar hanyalah bintang-bintang yang tidak tidur. Ia bertebaran mempercantik langit dan menemani bulan yang tengah merekah bulat penuh.
Begitulah...
Jadi, karena ini adalah pendakian, aku tidak harus kan meneruskan cerita selanjutnya? Apalagi perjalanan turunnya.
Nusantara di Jemari
Blog ini isinya cerita, warna-warni dua tahun melihat indonesia dengan sepeda.
Kamis, 18 Juli 2013
Perginya Haris
Pukul sembilan Sabtu pagi di hari ke-lima, 16 Juni 2012, kami memutar pedal sepeda keluar dari Polsek Ciawi Tasikmalaya. Pukul sebelasnya sepeda masuk ke Polres Ciamis. Kami istirahat di masjidnya.
Setengah dua siang, aku berjalan keluar masjid dengan mata yang masih sayu. Mendekati Haris yang sedang duduk di pelataran parkir di bawah pohon. Aku duduk di sebelahnya lalu dia bangun dan sila menghadapku. Wajah Haris terlihat tidak biasa. Caranya mengisap rokok dalam sekali. Bibirnya bergerak hati-hati dan keluarlah pengakuan, “saya ga nemuin diri saya dengan melakukan perjalanan ini secara tim. Mungkin, karena saya ga biasa berorganisasi, jadi saya kaget”
Dibanding telingaku sekarang, kagetnya Haris seolah hal kecil. Aku tercenung. Dan Haris bilang lagi, “Saya mau jalan sendiri dulu, tapi saya tetap ke arah timur. Mungkin, kita bisa ketemu lagi di Bali, atau tempat lain. Boleh ga? Ga apa-apa kan?” Aku diam. Pikiranku rasanya tidak bisa bekerja. Kucoba menyusun kata biar yang keluar adalah kalimat terbaik. Aku ragu-ragu memilih kata. Jadi aku hanya bisa bilang, “Mmm, ga apa-apa… Yaaa, kalo lu emang biasa jalan sendiri karena belum biasa secara tim…, ya udah… Ga apa-apa” Aku terdiam lagi, sebentar, sebelum kuakhiri, “Dari gua sih gitu aja”
Anto yang selesai shalat duduk di antara kami. Haris mengulangi maksudnya lagi pelan-pelan. “Wah, ga bisa dong! Enak aja lu! Pergi sama-sama terus sekarang mau pisah. Terus kalo udah pisah, nanti lu mau gabung lagi?! Enak amat!” Reaksi Anto lebih membuatku kaget. Lalu ia bangkit dan menjauh. Yang lucunya, hanya sekejap dari perginya, eh dia balik lagi dengan sebungkus pepaya potongan yang lalu diletakkannya di tengah-tengah kami. Suarana melunak, “Bohong, Ris. Santai aja. Kalo lu mau jalan sendiri, ya udah, ga apa-apa” Kepalanya mungkin sudah adem karena pepaya dingin. Tapi wajahnya tetap terlihat keras.
Malamnya, kami tiba di Banjar tanpa Haris yang sudah berbelok ke rumahnya di Ciamis. Di depan masjid Polres yang gelap ini aku dan Anto menyempatkan evaluasi harian. Keputusan Haris yang tiba-tiba menekuk niatnya tentu masih mengganjal di tim.
Aku berusaha memaksa diri untuk bisa menghargai alasan Haris memisahkan diri. Tapi juga menerka-nerka penyebab lain yang mungkin saja disimpannya. Mencoba memasuki pikirannya tapi aku tidak mampu. Saat siang tadi setelah kami keluar dari Polres Ciamis, semua yang kulihat di jalan seolah hanya tanda tanya. Siangku di atas Sibiru hanya habis dengan dugaan-dugaan. Meski saat makan siang aku sudah mencoba bertanya lebih akrab pada Haris, mencari kemungkinan ada alasan lain, tapi Haris tetap memberikan jawaban yang sama. Yah, hanya dia yang paling tahu alasannya.
Setengah dua siang, aku berjalan keluar masjid dengan mata yang masih sayu. Mendekati Haris yang sedang duduk di pelataran parkir di bawah pohon. Aku duduk di sebelahnya lalu dia bangun dan sila menghadapku. Wajah Haris terlihat tidak biasa. Caranya mengisap rokok dalam sekali. Bibirnya bergerak hati-hati dan keluarlah pengakuan, “saya ga nemuin diri saya dengan melakukan perjalanan ini secara tim. Mungkin, karena saya ga biasa berorganisasi, jadi saya kaget”
Dibanding telingaku sekarang, kagetnya Haris seolah hal kecil. Aku tercenung. Dan Haris bilang lagi, “Saya mau jalan sendiri dulu, tapi saya tetap ke arah timur. Mungkin, kita bisa ketemu lagi di Bali, atau tempat lain. Boleh ga? Ga apa-apa kan?” Aku diam. Pikiranku rasanya tidak bisa bekerja. Kucoba menyusun kata biar yang keluar adalah kalimat terbaik. Aku ragu-ragu memilih kata. Jadi aku hanya bisa bilang, “Mmm, ga apa-apa… Yaaa, kalo lu emang biasa jalan sendiri karena belum biasa secara tim…, ya udah… Ga apa-apa” Aku terdiam lagi, sebentar, sebelum kuakhiri, “Dari gua sih gitu aja”
Anto yang selesai shalat duduk di antara kami. Haris mengulangi maksudnya lagi pelan-pelan. “Wah, ga bisa dong! Enak aja lu! Pergi sama-sama terus sekarang mau pisah. Terus kalo udah pisah, nanti lu mau gabung lagi?! Enak amat!” Reaksi Anto lebih membuatku kaget. Lalu ia bangkit dan menjauh. Yang lucunya, hanya sekejap dari perginya, eh dia balik lagi dengan sebungkus pepaya potongan yang lalu diletakkannya di tengah-tengah kami. Suarana melunak, “Bohong, Ris. Santai aja. Kalo lu mau jalan sendiri, ya udah, ga apa-apa” Kepalanya mungkin sudah adem karena pepaya dingin. Tapi wajahnya tetap terlihat keras.
Malamnya, kami tiba di Banjar tanpa Haris yang sudah berbelok ke rumahnya di Ciamis. Di depan masjid Polres yang gelap ini aku dan Anto menyempatkan evaluasi harian. Keputusan Haris yang tiba-tiba menekuk niatnya tentu masih mengganjal di tim.
Aku berusaha memaksa diri untuk bisa menghargai alasan Haris memisahkan diri. Tapi juga menerka-nerka penyebab lain yang mungkin saja disimpannya. Mencoba memasuki pikirannya tapi aku tidak mampu. Saat siang tadi setelah kami keluar dari Polres Ciamis, semua yang kulihat di jalan seolah hanya tanda tanya. Siangku di atas Sibiru hanya habis dengan dugaan-dugaan. Meski saat makan siang aku sudah mencoba bertanya lebih akrab pada Haris, mencari kemungkinan ada alasan lain, tapi Haris tetap memberikan jawaban yang sama. Yah, hanya dia yang paling tahu alasannya.
Puncak Hari Pertama
Ini perjalanan hari pertama, 12 Juni 2012, setelah pelepasan di SPBU Gadog.
Ada cemas melihat wajahnya yang agak pucat. Barusan, napasnya terlihat cepat. Aku memperhatikan kayuhannya mati-matian mendaki sebelum kami break di medan Indonesia yang baru seumur jagung ini. Kasihan Anto, langsung dihajar dan KO. Tapi, sekarang ia sudah tidur, tidur duduk, menyandar pada tembok pagar rumah di pinggir jalan. Sepertinya Anto sudah tidak ambil pusing meski semua mata penumpang atau sesekali pengemudi-yang sedang memaksa kendaraannya naik ngos-ngosan-, memperhatikannya.
Aku mengikuti Haris mengeluarkan sebagian beban dari pannier bag Anto kemudian dibagi-bagikan ke Sibiru dan Sudrasatu. Lalu Anto bangun dan kami mengayuh lagi. Tapi belum jauh, kami berhenti lagi. Duduk lagi, istirahat lagi. Kemudian lanjut lagi, dan berhenti lagi. Seterusnya begitu hingga ke Cipayung.
Di Cipayung, kami sempat lapor ke Polsek dan meminta stempel perdana di kolom belakang buku keterangan jalan. Lanjut lagi namun belum jauh, proses yang sama terulang lagi. Setelah kami makan siang di depan pasar Cisarua, tanjakan makin serius. Semua habis, dan, ya, sering-sering kami menepi istirahat. Puncak yang kami tahu kemarin-kemarin sebagai daerah yang sejuk bahkan dingin makin ke atasnya, sejak hari ini adalah pertumpahan keringat.
Kalau biasanya orang yang berangkat dari Bogor hanya cukup satu jam untuk sampai di Puncak, kami kali ini, sekurangnya menghabiskan delapan jam, sebelum akhirnya benar-benar bertobat di Puncak Pas, pas perbatasan kabupaten Bogor-Cianjur. Lega setelah itu karena jalannya turun sampai pusat Cianjur. Tapi kami tidak ke sana. Langit sudah gelap, kami menumpang tidur di Mushola Polsek Pacet.
Hari pertama terasa begitu panjang.
Ada cemas melihat wajahnya yang agak pucat. Barusan, napasnya terlihat cepat. Aku memperhatikan kayuhannya mati-matian mendaki sebelum kami break di medan Indonesia yang baru seumur jagung ini. Kasihan Anto, langsung dihajar dan KO. Tapi, sekarang ia sudah tidur, tidur duduk, menyandar pada tembok pagar rumah di pinggir jalan. Sepertinya Anto sudah tidak ambil pusing meski semua mata penumpang atau sesekali pengemudi-yang sedang memaksa kendaraannya naik ngos-ngosan-, memperhatikannya.
Aku mengikuti Haris mengeluarkan sebagian beban dari pannier bag Anto kemudian dibagi-bagikan ke Sibiru dan Sudrasatu. Lalu Anto bangun dan kami mengayuh lagi. Tapi belum jauh, kami berhenti lagi. Duduk lagi, istirahat lagi. Kemudian lanjut lagi, dan berhenti lagi. Seterusnya begitu hingga ke Cipayung.
Di Cipayung, kami sempat lapor ke Polsek dan meminta stempel perdana di kolom belakang buku keterangan jalan. Lanjut lagi namun belum jauh, proses yang sama terulang lagi. Setelah kami makan siang di depan pasar Cisarua, tanjakan makin serius. Semua habis, dan, ya, sering-sering kami menepi istirahat. Puncak yang kami tahu kemarin-kemarin sebagai daerah yang sejuk bahkan dingin makin ke atasnya, sejak hari ini adalah pertumpahan keringat.
Kalau biasanya orang yang berangkat dari Bogor hanya cukup satu jam untuk sampai di Puncak, kami kali ini, sekurangnya menghabiskan delapan jam, sebelum akhirnya benar-benar bertobat di Puncak Pas, pas perbatasan kabupaten Bogor-Cianjur. Lega setelah itu karena jalannya turun sampai pusat Cianjur. Tapi kami tidak ke sana. Langit sudah gelap, kami menumpang tidur di Mushola Polsek Pacet.
Hari pertama terasa begitu panjang.
Pelepasan 12 Juni 2012
Di SPBU Gadog di pinggiran kota Bogor, terparkir tiga sepeda yang menampangkan kesiapannya diajak pergi melanglang. Sepeda Anto tentu sudah ada, dan ia menamainya Bleki. Warnanya dominan hitam-merah dan ukurannya terbesar ketimbang dua rekannya yang kembar: Sudrasatu, sepeda Haris, dan Sibiru, istriku yang bodinya 17,5. Setengah angka lebih kecil dari Bleki, dan setengah lebih besar dari 17nya Sudrasatu. Gembolan segambreng di tiap punggung sepeda kami kian membuatnya terlihat gagah.
Di lain pihak, ada yang berubah dari peringai teman-teman yang melepas. Ceria berhenti di muka Joe dan Sheila. Cap mereka sebagai dua sejoli ria mendadak luntur. Kisut yang datang bersama Ireng dan sejak awal kepalanya menunduk, malah terlihat makin layu. Majalah Sepeda!, memberi respek dengan hadirnya kang Haris dan Petrus. Kamera kang Petrus yang tadinya rajin jeprat-jepret pun tiba-tiba mogok berkedip dan seolah macet. Tangannya turun dari kamera lalu kami berkumpul berdoa bersama.
Semua mengkhianati langit pagi yang cerah. Semua bagai dirundung mendung. Mereka yang selama satu jam sudah menemani kami ngobrol, bersilang gurau dan tertawa di atas gelas-gelas kopi, berubah lemas saat mengangkat dan melambaikan tangannya. Tiap pasang bibir mereka lalu melambungkan hati-hati dan menjatuhkan sampai jumpa.
Pelepasan sederhana. Tidak ada kemeriahan acara gunting pita apalagi kehadiran orang penting. Sejurus, kami menekan pedal dan masuk ke aspal. Menjadi satu dengan jalan raya puncak. Di atas roda yang masih bergerak laun, aku teringat lagi pada kota ini. Tersadar pada kenyataan, Bogor akan di belakang untuk jangka yang lama. Entah kapan pastinya aku bisa kembali mencium kampung.
Di lain pihak, ada yang berubah dari peringai teman-teman yang melepas. Ceria berhenti di muka Joe dan Sheila. Cap mereka sebagai dua sejoli ria mendadak luntur. Kisut yang datang bersama Ireng dan sejak awal kepalanya menunduk, malah terlihat makin layu. Majalah Sepeda!, memberi respek dengan hadirnya kang Haris dan Petrus. Kamera kang Petrus yang tadinya rajin jeprat-jepret pun tiba-tiba mogok berkedip dan seolah macet. Tangannya turun dari kamera lalu kami berkumpul berdoa bersama.
Semua mengkhianati langit pagi yang cerah. Semua bagai dirundung mendung. Mereka yang selama satu jam sudah menemani kami ngobrol, bersilang gurau dan tertawa di atas gelas-gelas kopi, berubah lemas saat mengangkat dan melambaikan tangannya. Tiap pasang bibir mereka lalu melambungkan hati-hati dan menjatuhkan sampai jumpa.
Pelepasan sederhana. Tidak ada kemeriahan acara gunting pita apalagi kehadiran orang penting. Sejurus, kami menekan pedal dan masuk ke aspal. Menjadi satu dengan jalan raya puncak. Di atas roda yang masih bergerak laun, aku teringat lagi pada kota ini. Tersadar pada kenyataan, Bogor akan di belakang untuk jangka yang lama. Entah kapan pastinya aku bisa kembali mencium kampung.
Rabu, 17 Juli 2013
Prosesnya
Keinginan adalah sumber penderitaan, kata bang Iwan. Ada benarnya lirik itu. Aku pun kian menghargai bang Iwan mulai pertengahan 2011, sepuluh bulan silam sebelum kami berangkat, sejak Power Rangers belum terbentuk, hingga akhirnya pecah bentuknya.
Siang itu, Anto sedang beradu ilmu dengan netbook tuanya. Terbalik dari kebisingan biasa di kota Bogor, Anto ada di sebelahku dalam keheningan kamar 3 x 3. Nyaris tidak ada suara, kecuali jurus sebelas jarinya. Tusukkan kedua telunjuknya yang tambun, beraksi selincah Samo Hung. Keren, pikirku. Namun rasanya aku perlu menarik lagi pujian itu.
Cetak-cetik hilang dari telingaku. Aku melihat jemari Anto amnesia pada gerakan silat. Kepalanya mendongak, matanya mengawang, dan ia terdiam. Muka memohonnya disodorkan padaku. Sejak itulah aku tersadar. Aku sadar bahwa bermula dari kepusingannya ini, ia telah menularkan bibit penyakit yang namanya penderitaan.
Aku paham apa yang ada di balik muka melasnya saat itu. Paling isinya: tolongin gua bikin proposal nih. Tolong isi’in kalimat selanjutnya. Namun teman, setelah aku melihat kursor yang kedap-kedip di ujung kata terakhir, aku malah menjiplak gelagat Anto. Kuangkat dagu dan kuterbangkan mata ke langit-langit kamar. Seolah-olah kami berdua sedang berdoa pada para agar si para mau menerjunkan sejuta kata indah untuk dirayukan ke perusahaan.
Yang terjadi kemudian adalah ditutupnya Microsoft Word. Kalau dibuka lagi, sakit kepala yang berseri-seri. Aduh, membuat proposal tanpa pengalaman, amit-amit rumitnya.
Setelah proposal berjudul Kayuh Pedal Cumbu Indonesia rampung, kemudian sudah dikirimkan ke puluhan perusahaan besar, kami tinggal menunggu kabar baik-yang sepertinya tidak kunjung datang…
Waw! Suatu hari Anto pernah mendapat e-mail balasan. Perusahaan itu mengakhiri kalimatnya dengan santun pula, nanti akan kami pelajari dan kami pertimbangkan. Terima kasih. Perusahaan lain, ada juga yang merespon. Anehnya, kok bunyinya mirip-mirip ya dengan yang pertama.
Berhari berganti, berminggu dinanti, kecurigaan kami benar terjadi. Tak pernah ada kelanjutannya. Kami berpikir positif saja, mungkin perusahaan-perusahaan itu sedang sibuk rajin belajar.
Untungnya, selain Anto dan aku, adalah dia: Bandi, yang diberi Tuhan banyak kesabaran. Meski aku pernah bertanya, kenapa Tuhan malah memberi Bandi kesabaran, bukannya bakat seni? Aku yang main gitar di bawah pas-pasan, kunci hanya tahu satu-dua, dan waktu Bandi dan aku lahir kami sama-sama tidak tersenyum, kami menangis karena tangan kami tidak membawa serta piagam penghargaan seni dari Tuhan, pada suatu kebuntuan urusan dana aku berbicara dengannya. Pikiran kami terbuka. Setelah kami diskusikan ide itu dengan Anto, aku segera membuka Photoshop dan, kebingungan.
Aku tidak tahu bagaimana memulai desain gambar bertema sepeda. Tapi, di sinilah aku melihat luar biasaNYA. Meski sepertinya Tuhan memang enggan menyematkan kami bakat seni, Ia tidak pernah lupa menanamkan benih semangat ke semua umat. Aku kekeuh mendesain di Photoshop.
Setelah urat pelipis cenut-cenut berhari-hari, hasilnya beberapa desain pas-pasan kuserahkan untuk diseleksi Anto. Terpilihlah satu yang selanjutnya diserahkan ke tangan-tangan tukang pin, stiker, dan kaos.
Pembiayaan cetak pin dan stiker mudah saja karena modalnya enteng. Tapi kaos punya kasus khusus. Uang kami yang seret memaksa kami bertingkah seperti orang pelit yang hendak belanja. Kami memilah-milah dulu harga paling murah. Anto yang rajin cari sana-sini, akhirnya mendapatkan penyablon dengan ongkos rendah kualitas bagus. Sayang ada satu kekurangan. Rumah penyablon ada di kota sebelah, Cianjur. Jadi, setelah produksi selesai si kaos mesti dijemput jauh oleh Bandi yang menunggangi motornya menempuh total 120 kilometer Bogor-Cianjur-Bogor. Sepulangnya, barulah kami memotret kaos-kaos itu dan memajang gambarnya di jejaring sosial.
Anto yang paling berbakat meladeni para pemesan online. Ia rutin menjinjing paket berisi pin dan kaos dari rumahku ke kantor jasa pengiriman barang. Kalau jumlah pesanan banyak, Anto lincah bolak-balik.
Di akhir 2011, Bandi dan aku bersepeda hingga Jawa Tengah. Sementara Anto terpaksa tinggal di Bogor karena sepedanya belum terbangun. Maksud dari perjalanan itu adalah latihan sekalian menjaring dana lewat ratusan pin yang sengaja kami bawa dan di sepanjang jalan kami tawarkan pada teman-teman atau komunitas lainnya yang berhubungan dengan bakal kegiatan ini. Alibi kerennya sih adalah, Sosialisasi Kegiatan.
Suatu malam, aku masih ingat. Ketika itu kayuhan sudah sampai ke Jawa Tengah. Aku sedang menunggu pesanan makan malam di sudut kota Semarang sewaktu ponselku yang pink cantik berkedip-kedip. “Haris OANC”, nyala mati nyala mati. Sebelum kututup, aku sempat bilang padanya, “nanti di Bogor aja kita obrolin lagi”
Dua bulan, dan kami kembali ke Bogor. Bukannya pulang ke rumah, kami malah terlebih dulu menemui Anto yang tinggal di Ciawi.
Di dalam kamar kostnya itu Anto memberi kabar bahwa seorang teman bernama Kisut tertarik mau ikut. Aku juga bilang ke Anto bahwa ada seorang lagi yang tertarik. Dan kami tidak perlu berpikir lama-lama untuk memutuskan layak-tidaknya. Kisut yang bertubuh ciut dan Haris yang juga mengajukan diri ingin ikut, kami terima. Lagian, pikirku tim kami akan tangguh seperti Power Rangers. Eits, meski merah muda kadang-kadang menggejolakkan seleraku, aku ogah ya kalau didaulat jadi Rangers Pink.
Haris yang pendiam yang ternyata cocok jadi Rangers Pink. Karena aku curiga ia memiliki jiwa keibuan. Persisnya, jiwa ibu-ibu tukang kredit daster. Bayangkan saja bagaimana seorang pendiam bisa melariskan dagangan kalau tidak lihai merayu. Buktinya ada. Teman-teman kantornya yang mengenakan kaos-kaos bertema sepeda, wajahnya beberapa kali muncul di halaman facebookku.
Saat Haris sibuk dengan keibuannya, aku lebih sering menghadapi netbook tuanya Anto yang bercokol terus di kamarku. Aku membuat jalur pertama, pulau Jawa. Kalau sudah begitu, artinya kebolehanku dalam memelekkan mata sedang diuji. Kupaksakan raga betah menghadapi permainan menjemukan antara titik dan garis di google maps. Menekan klik, dan di layar muncul sebuah titik. Lalu kugeser mouse ke arah yang lain, yang kemudian kutitikkan lagi. Sehingga lahirlah garis yang menghubungkan antar keduanya. Di sebelah garis itu, aku selalu memperhatikan angka di sebelahnya yang menerangkan jaraknya. Jadi tiap kali garis bertambah panjang, angkanya juga bertambah naik. Terakhir Bogor ke Banyuwangi selesai, dan terhubung dengan jarak seribu lebih kilometer.
Tiap hari, aku setia pada google maps itu. Dari burung hantu berganti ayam, aku mendekam terus di kamar. Keluar kamar kalau kebelet atau haus saja. Keluar rumah jika rokok habis dan sambil berdoa semoga warung si Abang di sebelah rumah masih buka. Nah, kalau warung si Abang sudah tutup, ingin sekali aku akan lari ke warung si Mas atau si Aa. Sedihnya, teman, kedua warung itu tidak pernah ada.
Tiap bangun tidur, badanku punya warisan leher yang pegal dan mata yang perih minta dikucek-kucek tangan yang kesemutan sisa siksaan semalaman akibat jarang berpisah dengan mouse. Tapi malamnya, aku balik lagi ke google maps.
Pada saat-saat seperti itu, jika pintu kamarku terbuka, kadang-kadang seorang wanita yang sama datang melongok. Tapi ia tidak masuk. Paling hanya berdiri dari dekat pintu dan dilihatnya aku yang sedang bersidaku tak bosan-bosan menatap netbook. “Belum beres?” “belum, Ma” Ia berpaling ke bangku di ruang tamu dan kebiasaannya dilakukannya lagi. Ia duduk sandar dengan kaki kanannya dibonceng yang kiri, dagunya sandar di jempol dan jari-jarinya menutupi mulut. Itu artinya, ibuku sedang memikirkan sesuatu yang mendalam. Bisa jadi yang ada di dalam pikirannya, “apa sih yang dicari anakku?”
Tiap proses adalah perkembangan. Rute Bali, Lombok, Sumbawa, kecuali Papua yang paling ribet karena jalan yang pernah dibuka Soeharto entah hilang minggat ke mana, semuanya hampir selesai. Dan setelah peta empat pulau besar Indonesia itu akhirnya betul-betul penuh dengan garis, aku mengalkulasikan kilometer yang nantinya dijilati roda-roda sepeda kami. Kenyataan membuatku terkejut melihat kilometernya menembus 10.000.
Tiap kali pintu rumah bunyi ,“tok tok tok”, dan yang datangnya tukang paket, tandanya bagus. Tandanya komponen sepeda Anto tambah lengkap. Tandanya langkah yang sudah Anto tempuh untuk merakit sepeda, segera berbuah.
Begitulah. Bukankah tiap langkah adalah perwujudan? Sebab tak ada langkah kedua jika tak ada langkah pertama.
Bulan demi bulan dengan rutinitas yang hampir sama lewat sudah. Mimpi kami sudah semakin sempurna menyerupai bulan purnama. Sekalipun di hati kecil bentuknya masih lonjong, jiwa yang bulat ngotot berangkat. Aku merasa kalau kami bagai pion yang tidak mengenal kata mundur. Apalagi setelah pengunduran diri Haris pun Anto sudah di-acc oleh pihak atasan masing-masing. Anto, yang kepalang berani mengambil keputusan dengan melepas spidol hitam dan papan tulisnya, melepaskan anak-anak didiknya yang entah sedih atau malah senang kehilangan sosoknya di depan kelas, tampak bersemangat. Sementara Haris, penganggurannya terjadi beberapa hari sebelum berangkat. Ia tidak lagi memelototi layar monitor di tempat kerjanya di Jakarta. Dan aku yakin, pasti di hari terakhir ngantornya, Haris telah mengulurkan jabat perpisahan dengan teman-teman baiknya-karena sudah memiliki kaos-kaos bertema sepeda.
Namun teman, siapa juga yang bisa menerka masa depan? Kenyataan punya kejutan lain. Tiga bulan sebelum hari keberangkatan Bandi menyimpan sepeda di rumahnya. Keinginan melihat nusantara berganti baju rapi dan pergi bekerja ke perusahaan di Bekasi. Dan, di kota yang sama itu, Kisut tinggal. Seperti halnya Bandi, ia juga batal berangkat. Itulah pilihan hidup mereka, dan tetap kami hargai.
Akibatnya tim kami mundur dari kesempatan menyaingi Power Rangers. Aku mengmbil hikmah saja. Setidaknya aku tidak akan pernah mendengar usulan diangkat menjadi Rangers Pink.
Jadi tinggal Haris, Anto, dan aku yang laksana pengangguran sinting. Semakin akut dihipnotis mimpi. Sangat ikhlas memaklumi keadaan dana perjalanan yang minim. Semakin dekat ke hari H, Anto juga semakin tidak khawatir. “Berapapun dana yang ada, gua tetap berangkat”, begitu jawabannya yang memang jujur apa adanya. Seapa-adanya misi kami. Menikmati hidup.
Siang itu, Anto sedang beradu ilmu dengan netbook tuanya. Terbalik dari kebisingan biasa di kota Bogor, Anto ada di sebelahku dalam keheningan kamar 3 x 3. Nyaris tidak ada suara, kecuali jurus sebelas jarinya. Tusukkan kedua telunjuknya yang tambun, beraksi selincah Samo Hung. Keren, pikirku. Namun rasanya aku perlu menarik lagi pujian itu.
Cetak-cetik hilang dari telingaku. Aku melihat jemari Anto amnesia pada gerakan silat. Kepalanya mendongak, matanya mengawang, dan ia terdiam. Muka memohonnya disodorkan padaku. Sejak itulah aku tersadar. Aku sadar bahwa bermula dari kepusingannya ini, ia telah menularkan bibit penyakit yang namanya penderitaan.
Aku paham apa yang ada di balik muka melasnya saat itu. Paling isinya: tolongin gua bikin proposal nih. Tolong isi’in kalimat selanjutnya. Namun teman, setelah aku melihat kursor yang kedap-kedip di ujung kata terakhir, aku malah menjiplak gelagat Anto. Kuangkat dagu dan kuterbangkan mata ke langit-langit kamar. Seolah-olah kami berdua sedang berdoa pada para agar si para mau menerjunkan sejuta kata indah untuk dirayukan ke perusahaan.
Yang terjadi kemudian adalah ditutupnya Microsoft Word. Kalau dibuka lagi, sakit kepala yang berseri-seri. Aduh, membuat proposal tanpa pengalaman, amit-amit rumitnya.
Setelah proposal berjudul Kayuh Pedal Cumbu Indonesia rampung, kemudian sudah dikirimkan ke puluhan perusahaan besar, kami tinggal menunggu kabar baik-yang sepertinya tidak kunjung datang…
Waw! Suatu hari Anto pernah mendapat e-mail balasan. Perusahaan itu mengakhiri kalimatnya dengan santun pula, nanti akan kami pelajari dan kami pertimbangkan. Terima kasih. Perusahaan lain, ada juga yang merespon. Anehnya, kok bunyinya mirip-mirip ya dengan yang pertama.
Berhari berganti, berminggu dinanti, kecurigaan kami benar terjadi. Tak pernah ada kelanjutannya. Kami berpikir positif saja, mungkin perusahaan-perusahaan itu sedang sibuk rajin belajar.
Untungnya, selain Anto dan aku, adalah dia: Bandi, yang diberi Tuhan banyak kesabaran. Meski aku pernah bertanya, kenapa Tuhan malah memberi Bandi kesabaran, bukannya bakat seni? Aku yang main gitar di bawah pas-pasan, kunci hanya tahu satu-dua, dan waktu Bandi dan aku lahir kami sama-sama tidak tersenyum, kami menangis karena tangan kami tidak membawa serta piagam penghargaan seni dari Tuhan, pada suatu kebuntuan urusan dana aku berbicara dengannya. Pikiran kami terbuka. Setelah kami diskusikan ide itu dengan Anto, aku segera membuka Photoshop dan, kebingungan.
Aku tidak tahu bagaimana memulai desain gambar bertema sepeda. Tapi, di sinilah aku melihat luar biasaNYA. Meski sepertinya Tuhan memang enggan menyematkan kami bakat seni, Ia tidak pernah lupa menanamkan benih semangat ke semua umat. Aku kekeuh mendesain di Photoshop.
Setelah urat pelipis cenut-cenut berhari-hari, hasilnya beberapa desain pas-pasan kuserahkan untuk diseleksi Anto. Terpilihlah satu yang selanjutnya diserahkan ke tangan-tangan tukang pin, stiker, dan kaos.
Pembiayaan cetak pin dan stiker mudah saja karena modalnya enteng. Tapi kaos punya kasus khusus. Uang kami yang seret memaksa kami bertingkah seperti orang pelit yang hendak belanja. Kami memilah-milah dulu harga paling murah. Anto yang rajin cari sana-sini, akhirnya mendapatkan penyablon dengan ongkos rendah kualitas bagus. Sayang ada satu kekurangan. Rumah penyablon ada di kota sebelah, Cianjur. Jadi, setelah produksi selesai si kaos mesti dijemput jauh oleh Bandi yang menunggangi motornya menempuh total 120 kilometer Bogor-Cianjur-Bogor. Sepulangnya, barulah kami memotret kaos-kaos itu dan memajang gambarnya di jejaring sosial.
Anto yang paling berbakat meladeni para pemesan online. Ia rutin menjinjing paket berisi pin dan kaos dari rumahku ke kantor jasa pengiriman barang. Kalau jumlah pesanan banyak, Anto lincah bolak-balik.
Di akhir 2011, Bandi dan aku bersepeda hingga Jawa Tengah. Sementara Anto terpaksa tinggal di Bogor karena sepedanya belum terbangun. Maksud dari perjalanan itu adalah latihan sekalian menjaring dana lewat ratusan pin yang sengaja kami bawa dan di sepanjang jalan kami tawarkan pada teman-teman atau komunitas lainnya yang berhubungan dengan bakal kegiatan ini. Alibi kerennya sih adalah, Sosialisasi Kegiatan.
Suatu malam, aku masih ingat. Ketika itu kayuhan sudah sampai ke Jawa Tengah. Aku sedang menunggu pesanan makan malam di sudut kota Semarang sewaktu ponselku yang pink cantik berkedip-kedip. “Haris OANC”, nyala mati nyala mati. Sebelum kututup, aku sempat bilang padanya, “nanti di Bogor aja kita obrolin lagi”
Dua bulan, dan kami kembali ke Bogor. Bukannya pulang ke rumah, kami malah terlebih dulu menemui Anto yang tinggal di Ciawi.
Di dalam kamar kostnya itu Anto memberi kabar bahwa seorang teman bernama Kisut tertarik mau ikut. Aku juga bilang ke Anto bahwa ada seorang lagi yang tertarik. Dan kami tidak perlu berpikir lama-lama untuk memutuskan layak-tidaknya. Kisut yang bertubuh ciut dan Haris yang juga mengajukan diri ingin ikut, kami terima. Lagian, pikirku tim kami akan tangguh seperti Power Rangers. Eits, meski merah muda kadang-kadang menggejolakkan seleraku, aku ogah ya kalau didaulat jadi Rangers Pink.
Haris yang pendiam yang ternyata cocok jadi Rangers Pink. Karena aku curiga ia memiliki jiwa keibuan. Persisnya, jiwa ibu-ibu tukang kredit daster. Bayangkan saja bagaimana seorang pendiam bisa melariskan dagangan kalau tidak lihai merayu. Buktinya ada. Teman-teman kantornya yang mengenakan kaos-kaos bertema sepeda, wajahnya beberapa kali muncul di halaman facebookku.
Saat Haris sibuk dengan keibuannya, aku lebih sering menghadapi netbook tuanya Anto yang bercokol terus di kamarku. Aku membuat jalur pertama, pulau Jawa. Kalau sudah begitu, artinya kebolehanku dalam memelekkan mata sedang diuji. Kupaksakan raga betah menghadapi permainan menjemukan antara titik dan garis di google maps. Menekan klik, dan di layar muncul sebuah titik. Lalu kugeser mouse ke arah yang lain, yang kemudian kutitikkan lagi. Sehingga lahirlah garis yang menghubungkan antar keduanya. Di sebelah garis itu, aku selalu memperhatikan angka di sebelahnya yang menerangkan jaraknya. Jadi tiap kali garis bertambah panjang, angkanya juga bertambah naik. Terakhir Bogor ke Banyuwangi selesai, dan terhubung dengan jarak seribu lebih kilometer.
Tiap hari, aku setia pada google maps itu. Dari burung hantu berganti ayam, aku mendekam terus di kamar. Keluar kamar kalau kebelet atau haus saja. Keluar rumah jika rokok habis dan sambil berdoa semoga warung si Abang di sebelah rumah masih buka. Nah, kalau warung si Abang sudah tutup, ingin sekali aku akan lari ke warung si Mas atau si Aa. Sedihnya, teman, kedua warung itu tidak pernah ada.
Tiap bangun tidur, badanku punya warisan leher yang pegal dan mata yang perih minta dikucek-kucek tangan yang kesemutan sisa siksaan semalaman akibat jarang berpisah dengan mouse. Tapi malamnya, aku balik lagi ke google maps.
Pada saat-saat seperti itu, jika pintu kamarku terbuka, kadang-kadang seorang wanita yang sama datang melongok. Tapi ia tidak masuk. Paling hanya berdiri dari dekat pintu dan dilihatnya aku yang sedang bersidaku tak bosan-bosan menatap netbook. “Belum beres?” “belum, Ma” Ia berpaling ke bangku di ruang tamu dan kebiasaannya dilakukannya lagi. Ia duduk sandar dengan kaki kanannya dibonceng yang kiri, dagunya sandar di jempol dan jari-jarinya menutupi mulut. Itu artinya, ibuku sedang memikirkan sesuatu yang mendalam. Bisa jadi yang ada di dalam pikirannya, “apa sih yang dicari anakku?”
Tiap proses adalah perkembangan. Rute Bali, Lombok, Sumbawa, kecuali Papua yang paling ribet karena jalan yang pernah dibuka Soeharto entah hilang minggat ke mana, semuanya hampir selesai. Dan setelah peta empat pulau besar Indonesia itu akhirnya betul-betul penuh dengan garis, aku mengalkulasikan kilometer yang nantinya dijilati roda-roda sepeda kami. Kenyataan membuatku terkejut melihat kilometernya menembus 10.000.
Tiap kali pintu rumah bunyi ,“tok tok tok”, dan yang datangnya tukang paket, tandanya bagus. Tandanya komponen sepeda Anto tambah lengkap. Tandanya langkah yang sudah Anto tempuh untuk merakit sepeda, segera berbuah.
Begitulah. Bukankah tiap langkah adalah perwujudan? Sebab tak ada langkah kedua jika tak ada langkah pertama.
Bulan demi bulan dengan rutinitas yang hampir sama lewat sudah. Mimpi kami sudah semakin sempurna menyerupai bulan purnama. Sekalipun di hati kecil bentuknya masih lonjong, jiwa yang bulat ngotot berangkat. Aku merasa kalau kami bagai pion yang tidak mengenal kata mundur. Apalagi setelah pengunduran diri Haris pun Anto sudah di-acc oleh pihak atasan masing-masing. Anto, yang kepalang berani mengambil keputusan dengan melepas spidol hitam dan papan tulisnya, melepaskan anak-anak didiknya yang entah sedih atau malah senang kehilangan sosoknya di depan kelas, tampak bersemangat. Sementara Haris, penganggurannya terjadi beberapa hari sebelum berangkat. Ia tidak lagi memelototi layar monitor di tempat kerjanya di Jakarta. Dan aku yakin, pasti di hari terakhir ngantornya, Haris telah mengulurkan jabat perpisahan dengan teman-teman baiknya-karena sudah memiliki kaos-kaos bertema sepeda.
Namun teman, siapa juga yang bisa menerka masa depan? Kenyataan punya kejutan lain. Tiga bulan sebelum hari keberangkatan Bandi menyimpan sepeda di rumahnya. Keinginan melihat nusantara berganti baju rapi dan pergi bekerja ke perusahaan di Bekasi. Dan, di kota yang sama itu, Kisut tinggal. Seperti halnya Bandi, ia juga batal berangkat. Itulah pilihan hidup mereka, dan tetap kami hargai.
Akibatnya tim kami mundur dari kesempatan menyaingi Power Rangers. Aku mengmbil hikmah saja. Setidaknya aku tidak akan pernah mendengar usulan diangkat menjadi Rangers Pink.
Jadi tinggal Haris, Anto, dan aku yang laksana pengangguran sinting. Semakin akut dihipnotis mimpi. Sangat ikhlas memaklumi keadaan dana perjalanan yang minim. Semakin dekat ke hari H, Anto juga semakin tidak khawatir. “Berapapun dana yang ada, gua tetap berangkat”, begitu jawabannya yang memang jujur apa adanya. Seapa-adanya misi kami. Menikmati hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)