Kamis, 18 Juli 2013

Perginya Haris

Pukul sembilan Sabtu pagi di hari ke-lima, 16 Juni 2012, kami memutar pedal sepeda keluar dari Polsek Ciawi Tasikmalaya. Pukul sebelasnya sepeda masuk ke Polres Ciamis. Kami istirahat di masjidnya.

Setengah dua siang, aku berjalan keluar masjid dengan mata yang masih sayu. Mendekati Haris yang sedang duduk di pelataran parkir di bawah pohon. Aku duduk di sebelahnya lalu dia bangun dan sila menghadapku. Wajah Haris terlihat tidak biasa. Caranya mengisap rokok dalam sekali. Bibirnya bergerak hati-hati dan keluarlah pengakuan, “saya ga nemuin diri saya dengan melakukan perjalanan ini secara tim. Mungkin, karena saya ga biasa berorganisasi, jadi saya kaget”

Dibanding telingaku sekarang, kagetnya Haris seolah hal kecil. Aku tercenung. Dan Haris bilang lagi, “Saya mau jalan sendiri dulu, tapi saya tetap ke arah timur. Mungkin, kita bisa ketemu lagi di Bali, atau tempat lain. Boleh ga? Ga apa-apa kan?” Aku diam. Pikiranku rasanya tidak bisa bekerja. Kucoba menyusun kata biar yang keluar adalah kalimat terbaik. Aku ragu-ragu memilih kata. Jadi aku hanya bisa bilang, “Mmm, ga apa-apa… Yaaa, kalo lu emang biasa jalan sendiri karena belum biasa secara tim…, ya udah… Ga apa-apa” Aku terdiam lagi, sebentar, sebelum kuakhiri, “Dari gua sih gitu aja”

Anto yang selesai shalat duduk di antara kami. Haris mengulangi maksudnya lagi pelan-pelan. “Wah, ga bisa dong! Enak aja lu! Pergi sama-sama terus sekarang mau pisah. Terus kalo udah pisah, nanti lu mau gabung lagi?! Enak amat!” Reaksi Anto lebih membuatku kaget. Lalu ia bangkit dan menjauh. Yang lucunya, hanya sekejap dari perginya, eh dia balik lagi dengan sebungkus pepaya potongan yang lalu diletakkannya di tengah-tengah kami. Suarana melunak, “Bohong, Ris. Santai aja. Kalo lu mau jalan sendiri, ya udah, ga apa-apa” Kepalanya mungkin sudah adem karena pepaya dingin. Tapi wajahnya tetap terlihat keras.

Malamnya, kami tiba di Banjar tanpa Haris yang sudah berbelok ke rumahnya di Ciamis. Di depan masjid Polres yang gelap ini aku dan Anto menyempatkan evaluasi harian. Keputusan Haris yang tiba-tiba menekuk niatnya tentu masih mengganjal di tim.

Aku berusaha memaksa diri untuk bisa menghargai alasan Haris memisahkan diri. Tapi juga menerka-nerka penyebab lain yang mungkin saja disimpannya. Mencoba memasuki pikirannya tapi aku tidak mampu. Saat siang tadi setelah kami keluar dari Polres Ciamis, semua yang kulihat di jalan seolah hanya tanda tanya. Siangku di atas Sibiru hanya habis dengan dugaan-dugaan. Meski saat makan siang aku sudah mencoba bertanya lebih akrab pada Haris, mencari kemungkinan ada alasan lain, tapi Haris tetap memberikan jawaban yang sama. Yah, hanya dia yang paling tahu alasannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar