Siang itu, Anto sedang beradu ilmu dengan netbook tuanya. Terbalik dari kebisingan biasa di kota Bogor, Anto ada di sebelahku dalam keheningan kamar 3 x 3. Nyaris tidak ada suara, kecuali jurus sebelas jarinya. Tusukkan kedua telunjuknya yang tambun, beraksi selincah Samo Hung. Keren, pikirku. Namun rasanya aku perlu menarik lagi pujian itu.
Cetak-cetik hilang dari telingaku. Aku melihat jemari Anto amnesia pada gerakan silat. Kepalanya mendongak, matanya mengawang, dan ia terdiam. Muka memohonnya disodorkan padaku. Sejak itulah aku tersadar. Aku sadar bahwa bermula dari kepusingannya ini, ia telah menularkan bibit penyakit yang namanya penderitaan.
Aku paham apa yang ada di balik muka melasnya saat itu. Paling isinya: tolongin gua bikin proposal nih. Tolong isi’in kalimat selanjutnya. Namun teman, setelah aku melihat kursor yang kedap-kedip di ujung kata terakhir, aku malah menjiplak gelagat Anto. Kuangkat dagu dan kuterbangkan mata ke langit-langit kamar. Seolah-olah kami berdua sedang berdoa pada para agar si para mau menerjunkan sejuta kata indah untuk dirayukan ke perusahaan.
Yang terjadi kemudian adalah ditutupnya Microsoft Word. Kalau dibuka lagi, sakit kepala yang berseri-seri. Aduh, membuat proposal tanpa pengalaman, amit-amit rumitnya.
Setelah proposal berjudul Kayuh Pedal Cumbu Indonesia rampung, kemudian sudah dikirimkan ke puluhan perusahaan besar, kami tinggal menunggu kabar baik-yang sepertinya tidak kunjung datang…
Waw! Suatu hari Anto pernah mendapat e-mail balasan. Perusahaan itu mengakhiri kalimatnya dengan santun pula, nanti akan kami pelajari dan kami pertimbangkan. Terima kasih. Perusahaan lain, ada juga yang merespon. Anehnya, kok bunyinya mirip-mirip ya dengan yang pertama.
Berhari berganti, berminggu dinanti, kecurigaan kami benar terjadi. Tak pernah ada kelanjutannya. Kami berpikir positif saja, mungkin perusahaan-perusahaan itu sedang sibuk rajin belajar.
Untungnya, selain Anto dan aku, adalah dia: Bandi, yang diberi Tuhan banyak kesabaran. Meski aku pernah bertanya, kenapa Tuhan malah memberi Bandi kesabaran, bukannya bakat seni? Aku yang main gitar di bawah pas-pasan, kunci hanya tahu satu-dua, dan waktu Bandi dan aku lahir kami sama-sama tidak tersenyum, kami menangis karena tangan kami tidak membawa serta piagam penghargaan seni dari Tuhan, pada suatu kebuntuan urusan dana aku berbicara dengannya. Pikiran kami terbuka. Setelah kami diskusikan ide itu dengan Anto, aku segera membuka Photoshop dan, kebingungan.
Aku tidak tahu bagaimana memulai desain gambar bertema sepeda. Tapi, di sinilah aku melihat luar biasaNYA. Meski sepertinya Tuhan memang enggan menyematkan kami bakat seni, Ia tidak pernah lupa menanamkan benih semangat ke semua umat. Aku kekeuh mendesain di Photoshop.
Setelah urat pelipis cenut-cenut berhari-hari, hasilnya beberapa desain pas-pasan kuserahkan untuk diseleksi Anto. Terpilihlah satu yang selanjutnya diserahkan ke tangan-tangan tukang pin, stiker, dan kaos.
Pembiayaan cetak pin dan stiker mudah saja karena modalnya enteng. Tapi kaos punya kasus khusus. Uang kami yang seret memaksa kami bertingkah seperti orang pelit yang hendak belanja. Kami memilah-milah dulu harga paling murah. Anto yang rajin cari sana-sini, akhirnya mendapatkan penyablon dengan ongkos rendah kualitas bagus. Sayang ada satu kekurangan. Rumah penyablon ada di kota sebelah, Cianjur. Jadi, setelah produksi selesai si kaos mesti dijemput jauh oleh Bandi yang menunggangi motornya menempuh total 120 kilometer Bogor-Cianjur-Bogor. Sepulangnya, barulah kami memotret kaos-kaos itu dan memajang gambarnya di jejaring sosial.
Anto yang paling berbakat meladeni para pemesan online. Ia rutin menjinjing paket berisi pin dan kaos dari rumahku ke kantor jasa pengiriman barang. Kalau jumlah pesanan banyak, Anto lincah bolak-balik.
Di akhir 2011, Bandi dan aku bersepeda hingga Jawa Tengah. Sementara Anto terpaksa tinggal di Bogor karena sepedanya belum terbangun. Maksud dari perjalanan itu adalah latihan sekalian menjaring dana lewat ratusan pin yang sengaja kami bawa dan di sepanjang jalan kami tawarkan pada teman-teman atau komunitas lainnya yang berhubungan dengan bakal kegiatan ini. Alibi kerennya sih adalah, Sosialisasi Kegiatan.
Suatu malam, aku masih ingat. Ketika itu kayuhan sudah sampai ke Jawa Tengah. Aku sedang menunggu pesanan makan malam di sudut kota Semarang sewaktu ponselku yang pink cantik berkedip-kedip. “Haris OANC”, nyala mati nyala mati. Sebelum kututup, aku sempat bilang padanya, “nanti di Bogor aja kita obrolin lagi”
Dua bulan, dan kami kembali ke Bogor. Bukannya pulang ke rumah, kami malah terlebih dulu menemui Anto yang tinggal di Ciawi.
Di dalam kamar kostnya itu Anto memberi kabar bahwa seorang teman bernama Kisut tertarik mau ikut. Aku juga bilang ke Anto bahwa ada seorang lagi yang tertarik. Dan kami tidak perlu berpikir lama-lama untuk memutuskan layak-tidaknya. Kisut yang bertubuh ciut dan Haris yang juga mengajukan diri ingin ikut, kami terima. Lagian, pikirku tim kami akan tangguh seperti Power Rangers. Eits, meski merah muda kadang-kadang menggejolakkan seleraku, aku ogah ya kalau didaulat jadi Rangers Pink.
Haris yang pendiam yang ternyata cocok jadi Rangers Pink. Karena aku curiga ia memiliki jiwa keibuan. Persisnya, jiwa ibu-ibu tukang kredit daster. Bayangkan saja bagaimana seorang pendiam bisa melariskan dagangan kalau tidak lihai merayu. Buktinya ada. Teman-teman kantornya yang mengenakan kaos-kaos bertema sepeda, wajahnya beberapa kali muncul di halaman facebookku.
Saat Haris sibuk dengan keibuannya, aku lebih sering menghadapi netbook tuanya Anto yang bercokol terus di kamarku. Aku membuat jalur pertama, pulau Jawa. Kalau sudah begitu, artinya kebolehanku dalam memelekkan mata sedang diuji. Kupaksakan raga betah menghadapi permainan menjemukan antara titik dan garis di google maps. Menekan klik, dan di layar muncul sebuah titik. Lalu kugeser mouse ke arah yang lain, yang kemudian kutitikkan lagi. Sehingga lahirlah garis yang menghubungkan antar keduanya. Di sebelah garis itu, aku selalu memperhatikan angka di sebelahnya yang menerangkan jaraknya. Jadi tiap kali garis bertambah panjang, angkanya juga bertambah naik. Terakhir Bogor ke Banyuwangi selesai, dan terhubung dengan jarak seribu lebih kilometer.
Tiap hari, aku setia pada google maps itu. Dari burung hantu berganti ayam, aku mendekam terus di kamar. Keluar kamar kalau kebelet atau haus saja. Keluar rumah jika rokok habis dan sambil berdoa semoga warung si Abang di sebelah rumah masih buka. Nah, kalau warung si Abang sudah tutup, ingin sekali aku akan lari ke warung si Mas atau si Aa. Sedihnya, teman, kedua warung itu tidak pernah ada.
Tiap bangun tidur, badanku punya warisan leher yang pegal dan mata yang perih minta dikucek-kucek tangan yang kesemutan sisa siksaan semalaman akibat jarang berpisah dengan mouse. Tapi malamnya, aku balik lagi ke google maps.
Pada saat-saat seperti itu, jika pintu kamarku terbuka, kadang-kadang seorang wanita yang sama datang melongok. Tapi ia tidak masuk. Paling hanya berdiri dari dekat pintu dan dilihatnya aku yang sedang bersidaku tak bosan-bosan menatap netbook. “Belum beres?” “belum, Ma” Ia berpaling ke bangku di ruang tamu dan kebiasaannya dilakukannya lagi. Ia duduk sandar dengan kaki kanannya dibonceng yang kiri, dagunya sandar di jempol dan jari-jarinya menutupi mulut. Itu artinya, ibuku sedang memikirkan sesuatu yang mendalam. Bisa jadi yang ada di dalam pikirannya, “apa sih yang dicari anakku?”
Tiap proses adalah perkembangan. Rute Bali, Lombok, Sumbawa, kecuali Papua yang paling ribet karena jalan yang pernah dibuka Soeharto entah hilang minggat ke mana, semuanya hampir selesai. Dan setelah peta empat pulau besar Indonesia itu akhirnya betul-betul penuh dengan garis, aku mengalkulasikan kilometer yang nantinya dijilati roda-roda sepeda kami. Kenyataan membuatku terkejut melihat kilometernya menembus 10.000.
Tiap kali pintu rumah bunyi ,“tok tok tok”, dan yang datangnya tukang paket, tandanya bagus. Tandanya komponen sepeda Anto tambah lengkap. Tandanya langkah yang sudah Anto tempuh untuk merakit sepeda, segera berbuah.
Begitulah. Bukankah tiap langkah adalah perwujudan? Sebab tak ada langkah kedua jika tak ada langkah pertama.
Bulan demi bulan dengan rutinitas yang hampir sama lewat sudah. Mimpi kami sudah semakin sempurna menyerupai bulan purnama. Sekalipun di hati kecil bentuknya masih lonjong, jiwa yang bulat ngotot berangkat. Aku merasa kalau kami bagai pion yang tidak mengenal kata mundur. Apalagi setelah pengunduran diri Haris pun Anto sudah di-acc oleh pihak atasan masing-masing. Anto, yang kepalang berani mengambil keputusan dengan melepas spidol hitam dan papan tulisnya, melepaskan anak-anak didiknya yang entah sedih atau malah senang kehilangan sosoknya di depan kelas, tampak bersemangat. Sementara Haris, penganggurannya terjadi beberapa hari sebelum berangkat. Ia tidak lagi memelototi layar monitor di tempat kerjanya di Jakarta. Dan aku yakin, pasti di hari terakhir ngantornya, Haris telah mengulurkan jabat perpisahan dengan teman-teman baiknya-karena sudah memiliki kaos-kaos bertema sepeda.
Namun teman, siapa juga yang bisa menerka masa depan? Kenyataan punya kejutan lain. Tiga bulan sebelum hari keberangkatan Bandi menyimpan sepeda di rumahnya. Keinginan melihat nusantara berganti baju rapi dan pergi bekerja ke perusahaan di Bekasi. Dan, di kota yang sama itu, Kisut tinggal. Seperti halnya Bandi, ia juga batal berangkat. Itulah pilihan hidup mereka, dan tetap kami hargai.
Akibatnya tim kami mundur dari kesempatan menyaingi Power Rangers. Aku mengmbil hikmah saja. Setidaknya aku tidak akan pernah mendengar usulan diangkat menjadi Rangers Pink.
Jadi tinggal Haris, Anto, dan aku yang laksana pengangguran sinting. Semakin akut dihipnotis mimpi. Sangat ikhlas memaklumi keadaan dana perjalanan yang minim. Semakin dekat ke hari H, Anto juga semakin tidak khawatir. “Berapapun dana yang ada, gua tetap berangkat”, begitu jawabannya yang memang jujur apa adanya. Seapa-adanya misi kami. Menikmati hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar