Di SPBU Gadog di pinggiran kota Bogor, terparkir tiga sepeda yang menampangkan kesiapannya diajak pergi melanglang. Sepeda Anto tentu sudah ada, dan ia menamainya Bleki. Warnanya dominan hitam-merah dan ukurannya terbesar ketimbang dua rekannya yang kembar: Sudrasatu, sepeda Haris, dan Sibiru, istriku yang bodinya 17,5. Setengah angka lebih kecil dari Bleki, dan setengah lebih besar dari 17nya Sudrasatu. Gembolan segambreng di tiap punggung sepeda kami kian membuatnya terlihat gagah.
Di lain pihak, ada yang berubah dari peringai teman-teman yang melepas. Ceria berhenti di muka Joe dan Sheila. Cap mereka sebagai dua sejoli ria mendadak luntur. Kisut yang datang bersama Ireng dan sejak awal kepalanya menunduk, malah terlihat makin layu. Majalah Sepeda!, memberi respek dengan hadirnya kang Haris dan Petrus. Kamera kang Petrus yang tadinya rajin jeprat-jepret pun tiba-tiba mogok berkedip dan seolah macet. Tangannya turun dari kamera lalu kami berkumpul berdoa bersama.
Semua mengkhianati langit pagi yang cerah. Semua bagai dirundung mendung. Mereka yang selama satu jam sudah menemani kami ngobrol, bersilang gurau dan tertawa di atas gelas-gelas kopi, berubah lemas saat mengangkat dan melambaikan tangannya. Tiap pasang bibir mereka lalu melambungkan hati-hati dan menjatuhkan sampai jumpa.
Pelepasan sederhana. Tidak ada kemeriahan acara gunting pita apalagi kehadiran orang penting. Sejurus, kami menekan pedal dan masuk ke aspal. Menjadi satu dengan jalan raya puncak. Di atas roda yang masih bergerak laun, aku teringat lagi pada kota ini. Tersadar pada kenyataan, Bogor akan di belakang untuk jangka yang lama. Entah kapan pastinya aku bisa kembali mencium kampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar